Soal uas bhs Inggris thn 2003 smp
soal-soal untuk belajar menghadapi uas bagi smp, dapat dilihat dalam link di bawah ini
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Apr | ||||||
| 1 | 2 | 3 | ||||
| 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
| 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 |
| 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 |
| 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 |
soal-soal untuk belajar menghadapi uas bagi smp, dapat dilihat dalam link di bawah ini
Soal-soal latihan uas Bahasa Inggris untuk SMP/MTS, silahkan klik link dibawah ini:
silhkan belajar Bahasa Indonesia untuk menghadapi UAS, silahkan kli link dibawah ini:
untuk belajar uas SMP tahun ini di harapkan download dalam link di bawah ini:
Klik disini:
soal uas Matematika SMP th 2003/2004
Rumus Kubus
- Volume : Sisi pertama dikali sisi kedua dikali sisi ketiga (S pangkat 3)
Rumus Balok
- Volume : Panjang dikali lebar dikali tinggi (p x l x t)
Rumus Bola
- Volume : phi dikali jari-jari dikali tinggi pangkat tiga kali 4/3 (4/3 x phi x r x t x t x t)
- Luas : phi dikali jari-jari kuadrat dikali empat (4 x phi x r x r)
Rumus Limas Segi Empat
- Volume : Panjang dikali lebar dikali tinggi dibagi tiga (p x l x t x 1/3)
- Luas : ((p + l) t) + (p x l)
Rumus Tabung
- Volume : phi dikali jari-jari dikali jari-jari dikali tinggi (phi x r2 x t)
- Luas : (phi x r x 2) x (t x r)
Rumus Kerucut
- Volume : phi dikali jari-jari dikali jari-jari dikali tinggi dibagi tiga (phi x r2 x t x 1/3)
- Luas : (phi x r) x (S x r)
- S : Sisi miring kerucut dari alas ke puncak (bukan tingi)
Rumus Prisma Segitiga Siku-siku
- Volume : alas segitiga kali tinggi segitiga kali tinggi prisma bagi dua (as x ts x tp x
Bagi sebagian murid sekolah, matematika dianggap pelajaran sulit, meskipun tidak sedikit yang menyenangi pelajaran ini. Kalau kebetulan anak kita termasuk murid yang kesulitan dalam matematika, maka kita lah yang harus belajar. Sebab, les atau kursus belum tentu tepat untuk membantunya.Meski tidak semua, banyak di antara murid sekolah, terutama SD yang merupakan tingkat dasar dari seluruh pendidikan yang akan dijalani anak, mengeluhkan soal pelajaran matematika. Mereka menganggap matematika sebagai pelajaran sulit. Terlebih lagi bila mereka mendapat nilai di bawah rata-rata. Yang punya niat akan lebih tekun mempelajari, kembali hilang semangat. Celakanya, kalau keadaan ini terus berlanjut hingga ke jenjang pendidikan berikutnya. Maka, sepanjang masa pendidikan mereka menganggap matematika menjadi pelajaran paling menyeramkan.
Padahal, matematika sebenarnya pelajaran mengasyikkan. Apalagi, untuk murid SD. Pada tingkat pendidikan dasar ini pelajaran matematika masih berkenaan dengan berhitung, yang merupakan bagian dari matematika, yakni operasi tambah, kurang, kali, dan bagi. Mula-mula menggunakan bilangan bulat. Kemudian meningkat ke bilangan pecahan. Operasi hitung itu bisa dipelajarai sambil bermain yang memang merupakan kegiatan utama anak-anak.
Pada tingkatan lebih tinggi pun matematika tak perlu jadi momok. Prof. Dr. Andi Hakim Nasoetion, pakar matematika dari Institut Pertanian Bogor (IPB), memberikan bukti. Setiap tahun ada tiga puluh murid terbaik dari setiap propinsi ikut seleksi olimpiade matematika. “Ini bukti mereka tidak takut matematika. Mereka malah senang matematika, meskipun ketika latihan di BP3G IPA di Bandung mereka diberi soal-soal sulit,” tuturnya.
Kalau pun anak gagal mendapatkan nilai baik ketika pada awal-awal sekolah SD, orang tua tak perlu gusar. Kesempatan untuk meraih sukses masih ada. Bahkan, tak tertutup kemungkinan menjadi pakar matematika seperti yang dialami Andi Hakim. “Saya dulu belajar berhitung dari buku Bouwman en van Zelm di kelas satu HIS Ardjoena, yaitu pada triwulan pertama tahun ajaran 1937/1938. Nilai berhitung saya di rapor waktu itu empat. Sangking marahnya ayah saya hendak menukar otak saya dengan otak ayam percobaannya di kandang. Katanya, ayam betina lebih pintar berhitung dari pada saya. Ketika itu saya benci sekali terhadap pelajaran berhitung,” cerita mantan rektor Institut Pertanian Bogor ini. Namun, yang terjadi kemudian, Andi Hakim menjadi pakar matematika.
Prakondisi kurang tepat
Matematika memang bukan berhitung, tetapi berhitung pasti matematika. Pasalnya, berhitung merupakan bagian dari matematika. Matematika sendiri merupakan ilmu struktur, urutan (order), dan hubungan yang meliputi dasar-dasar penghitungan, pengukuran, dan penggambaran bentuk objek. Ilmu ini melibatkan logika dan kalkulasi kuantitatif, dan pengembangannya telah meningkatkan derajad idealisasi dan abstraksi subjeknya.
Menurut Andi Hakim, matematika memang harus diajarkan sejak SD kelas satu. “Namun, bahan yang perlu diajarkan disesuaikan dengan daya cerna murid. Masalahnya, banyak sekali guru SD yang tidak memahami berhitung sekali pun, karena dia tidak menguasai teorinya, yakni matematika,” jelasnya. Akibatnya, ada di antara muridnya tidak bersemangat, bahkan takut, pada pelajaran matematika.
Andi Hakim dan Henny Supolo Sitepu, seorang pendidik dari sekolah Al-Idhzar, menduga ketakutan anak itu besar sekali kemungkinannya karena si anak sudah diprakondisikan oleh orang tuanya yang menakut-nakutinya. “Kalau orang tua menganggap matematika sebagai momok, anak juga mempunyai anggapan yang sama,” ujar Henny. Andi Hakim bahkan menyatakan ada guru yang menggunakan soal matematika untuk menghukum muridnya yang nakal. Lebih celaka lagi, sebagian masyarakat pun tidak memberikan apresiasi yang positif terhadap pelajaran matematika. “Saya pernah mengirimkan press release tentang prestasi pemuda Indonesia dalam Asia Pasific Mathematics Olympiad tahun 2000. Mereka memperoleh satu medali perak, lima medali perunggu, dan empat honorable mention. Tidak ada koran atau majalah yang mau memuatnya!,” tutur Andi hakim memberi contoh. “Media lebih baik memuat pertanyaan mengapa perempuan, yang sedang dipenjara, bisa hamil dan siapa agaknya yang menghamilinya. Kita ini bangsa yang lebih suka mendengar sensasi daripada menyerap pengetahuan bermanfaat,” tambahnya sedikit geram.
Belum lagi para pejabat yang berkompeten ternyata juga bukan orang tepat. Andi Hakim menceritakan, “Pada suatu ketika, sebelum berangkat ke olimpiade matematika internasional, seluruh regu peserta berniat ‘matur’ kepada menteri. Tetapi menterinya terlalu sibuk untuk masalah matematika. Akhirnya kami dipersilakan bertemu bawahannya, yang cukup tinggi kedudukannya, untuk mendapatkan ‘sangu’ sebelum berlaga di gelanggang internasional. Apa ‘sangu’nya? Dia bilang, dia paling bodoh mengenai matematika. Untung ada SMA bagian A, sehingga dia bisa lulus SMA. Kalau tidak begitu mana mungkin dia menjadi mahasiswa di universitas, menjadi sarjana, doktor, profesor, dan kemudian menjadi rektor. Kalau tidak pernah menjadi rektor, mana mungkin dia mendapat kedudukan bawahan menteri. Semua siswa yang akan berangkat tertawa. Tetapi saya merasa kena sindir, karena setelah saya berhenti jadi rektor, tidak mampu masuk eselon satu, cuma bisa mengantar siswa yang senang matematika ke olimpiade matematika.”
Peran orang tua sangat penting
Lalu, bagaimana menyelamatkan anak dari atmosfer matematika yang sedikit “mendung”? Di sini peran orang tua menjadi sangat penting. “Orang yang lebih diharapkan untuk bisa diandalkan mengerti kebutuhan anak adalah orang tua, bukan guru. Orang yang diharapkan bisa diandalkan untuk tahu pintu masuk paling efektif dalam memberikan pemahaman apa pun, adalah orang tua. Orang yang harusnya mengerti gaya belajar anak adalah orang tua,” tegas Henny.
Yang pertama dilakukan tentu mengubah persepsi matematika yang menakutkan itu menjadi menyenangkan. “Kalau matematika dipandang sebagai sesuatu yang menyenangkan, maka pelajaran itu menjadi bagian kehidupan yang menyenangkan,” tegas Henny. Orang tua juga mesti segera mengambil tindakan untuk membantu anak belajar matematika dengan cara menyenangkan. Caranya, dengan memberi contoh kongkrit, bukan yang abstrak. “Kongkritkan dulu dalam suatu benda yang mereka lihat. Berapa kali berapa menjadi berapa. Lalu latihlah dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya. Memang, idealnya sekolah juga melakukan pendekatan sama yakni mencoba memberikan konsep-konsep itu secara kongkrit dan mencoba untuk memberikan latihan-latihan sesuai dengan kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh anak. “Yang jadi masalah, di sekolah ‘kan tidak seperti itu. Karena itu, kita sebaiknya melakukan segala sesuatu dari hal yang bisa kita lakukan. Jangan melihat sesuatu dari yang tidak bisa kita lakukan,” tutur Henny lagi.
Umpamanya, dengan mengamati lukisan karapan sapi. Dalam karapan itu anak bisa menghitung berapa pesertanya, kalau setiap peserta ditarik dua ekor sapi, berapa jumlah seluruh sapinya. Contoh lainnya, kalau ada delapan orang hendak bepergian, kira-kira perlu berapa mobil sedan. Jawaban memang bisa macam-macam. Itu merupakan gagasan. Misalnya jawabannya satu mobil. Alasannya, ada yang dipangku. Lewat cara ini anak juga diajak berimajinasi dan bisa mempunyai berbagai pilihan.
Sementara, untuk anak yang kurang paham soal uang, anak diajari belanja sendiri ke warung. Ia membawa uang berapa, memperkirakan kembaliannya, menghitung di situ kembaliannya. Dengan cara macam itu kita membuat anak merasakan bahwa itu merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Atau, dengan membuatkannya uang-uangan dari potongan kertas dan diberi nilai 25, 50, 100, 500. dsb., sesuai dengan pecahan uang yang beredar. Sambil belajar anak sekaligus diajak bermain. Dengan cara seperti itu anak jadi lebih tertarik dan lebih paham masalah nilai uang, meskipun perlu waktu dan kesabaran.
Hal sama sebenarnya bisa pula dilakukan sekolah. Misalnya seperti yang di lakukan sekolah Al-Idhzar. Setiap akhir tahun diadakan acara bazar. Anak-anak diminta berjualan. Misalnya ada yang berjualan sirup. Contoh lainnya, suatu hari murid ditugasi menghitung temannya yang memakai kerudung. Berapa yang memakai kerudung putih, kerudung merah, dan kerudung hitam. Selanjutnya menjumlahkan semua murid yang memakai kerudung. Kalau, jumlah siswanya sekian, yang tidak pakai kerudung berapa?
Dalam membantu anak belajar matematika dengan cara tadi, maka peran alat peraga menjadi sangat besar, terutama untuk anak SD. Tidak perlu yang mahal. Henny mencontohkan penggunaan daun kering untuk menghitung luas suatu bidang tertentu. Dengan daun sebesar ini, berapa daun dibutuhkan untuk menutupi bidang tertentu. Atau dengan menggunakan kendaraan yang lewat di depan rumah. Dalam jangka waktu tertentu ada berapa kendaraan lewat? Berapa kendaraan roda tiganya, dan berapa roda empatnya? Jam berikutnya, dihitung lagi. Kemudian dalam seminggu bisa dilihat perbedaannya. Lalu dianalisis, kenapa pada hari Senin dan Jumat sangat ramai dan hari lain tidak terlalu. “Itu semua latihan logika dan matematika,” jelasnya.
Jadi tidak perlu alat peraga istimewa dan mahal. Yang dibutuhkan kreativitas kita. Mula-mula dilakukan pendataan, apa saja yang bisa dipakai. Lalu kita mencoba memikirkan bagaimana mempergunakan potensi yang dimilikinya untuk memudahkan anak-anak belajar.
Dalam praktik, kalau kita mengikuti pelajaran matematika anak sejak awal, kita bisa mencari jalan apa yang harus kita lakukan di rumah untuk menerangkan suatu hal. Masalah akan menjadi rumit kalau kita tidak mengikutinya sejak awal. Memang pada saat yang diajarkan istilah-istilah, anak menjadi bingung. Namun bingung dalam istilah tidak berarti bingung dalam pemahamannya. Itulah yang tetap kita jembatani dengan mencarinya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan mencari pemahaman dasar dalam kehidupan sehari-hari, maka matematika tidak akan menjadi sesuatu yang menakutkan.
Les atau kursus belum tentu berguna
Sudah tentu orang tua zaman sekarang tidak boleh judeg atau putus asa. “Itulah risikonya menjadi orang tua. Jadi, mereka harus tetap berupaya. Konsep belajar seharusnya adalah konsep yang terus kita lakukan sampai kita mati. Sebaiknya, konsep itu dipahami dan dilakukan, bukan hanya diucapkan,” tutur Henny mengingatkan.
Bisa saja orang tua mencoba membantu anak dengan cara meleskan atau mengkursuskan. Namun, menurut Henny, kita mesti tahu terlebih dahulu masalah yang dihadapi si anak. Jangan-jangan dia anak yang punya masalah diskalkuli; ada sesuatu yang membuat anak ini berpikir lain dalam soal penomoran. Atau mungkin anak ini tidak suka pada gurunya? Sehingga masalahnya lebih berhubungan ke emosi daripada yang lain. Mungkin juga anak ini sedang protes kepada orang tua. “Les atau kursus kita berikan kalau kita sudah tahu betul apa masalahnya,” jelas ibu dua orang remaja ini.
Anak perlu dileskan kalau ia membutuhkan kontak satu-satu untuk tiba pada tingkat pemahaman. Kadang-kadang itu pun hanya pada topik-topik tertentu. Kalau demikian halnya, mungkin bisa dimintakan remedial. Guru atau orang tua menjelaskan topik-topik tertentu. “Jadi tidak perlu setiap saat dileskan. Karena dileskan itu, apalagi kalau terus tanpa kita tahu penyebabnya, bisa menyebabkan ketergantungan. Juga kita jadi tidak tahu seberapa jauh anak tertantang untuk mengembangkan dirinya,” tambahnya.
Kursus pun belum tentu bisa membantu anak mencapai sasaran. “Saya pernah melihat stand salah satu metode pengajaran matematika di International Conference on Matematics Education tahun 1996 di Totonto. Isinya tidak lain adalah landasan teori matematika untuk mengajarkan berhitung. Jadi sebenarnya pesertanya cuma belajar landasan teorinya,” jelas Andi Hakim.
Melihat plus-minus kursus yang berkaitan dengan matematika, Henny menyarankan orang tua untuk mempertimbangkan betul kegunaan kursus-kursus itu bagi anaknya dan bagaimana perkembangan anaknya secara menyeluruh. Anak itu membutuhkan banyak perkembangan.
Sementara untuk orang tuanya, dalam pandangan Henny, forum untuk sharing, adalah tempat yang tepat. Tidak perlu formal, yang penting bisa menjadi kumpulan orang tua dengan minat sama, kebutuhan sama, dan bisa berbagi. Mungkin pada saat berbagi itu ditemukan lebih banyak gagasan. Tidak hanya dalam hal matematika, tetapi berbagai hal, termasuk bagaimana mengatasi kesulitan belajar.
Memang, forum semacam ini belum terdengar ada. Namun, di Singapura sudah ada lembaga formal yang secara berkala menggelar lokakarya untuk membantu orang tua yang memiliki anak bermasalah dalam hal matematika. Ini menggambarkan, bila anak mengalami kesulitan belajar matematika, orang tua lah yang mesti belajar. (I Gede Agung Y./Anglingsari Saptono)
Boks : Jangan Gampang Bilang Bodoh
Bitter Sweet : Suite Française - A Writer’s Lesson: Hide Player | Play in Popup | Download
It’s not that unusual in fiction for dramatic events in an author’s life to enter into the work of fiction that they are creating. It’s perhaps a lot less common when that real life drama is happening at the same time that the work is being written and that the tragic outcome for the author, in this case execution in a Nazi death camp, leads both to a sudden interruption in the narrative and to the manuscript only being discovered and published sixty four years after the author’s death. That alone is perhaps enough to make Irene Némirovsky’s book, Suite Française
, an extraordinary story - not enough, perhaps, to make it a great novel and for that you have to add in Némirovsky’s incredible skills as a writer and observer of human behaviour. Given that she was writing the novel with an ever deepening sense of her own death at the hands of the Nazis it is all the more extraordinary that she handles their presence in her novel, and the occupation of France by the Germans, with such humanity and sensitivity and decides to tackle themes in the novel which are far larger than her own personal story.
A few weeks ago I wrote a post about Cormac McCarthy’s post-apocalyptic novel The Road - the story of a father and son escaping from the North through a horribly desolate and scorched landscape and heading toward what they hoped to be a safer and less damaged South. The first part of Némirovsky’s book describes the exodus from Paris on the eve of the German invasion and there were many moments while I was reading this part of her novel when I thought of the The Road - a very different book but one that was also able to throw a brilliant light on how human’s can behave when all of the social and cultural props have been removed.
As this blog is about the English language I really concentrated in that post on talking a little about how the rules of English can be bent by an author to achieve certain effects. In this post, along the same lines, I don’t really want to talk about the story or even about the tragic real-life background which it so brilliantly describes - I really think that this is a bitter-sweet pleasure best left up to you as the reader. What I do want to have a quick look at are some of the notes in the Appendix 1 of the book which give an insight into Némirovsky’s writing process and which provide invaluable lessons for anyone who would like to write and that I am hoping all our English4Today Creative Writing Course students will read. Again, I am going to talk about one or two isolated notes that I found revealing about the writing process and after that I’m hoping that you will be interested enough to read the book yourself.
These notes are all taken from Némirovsky’s jottings for the Suite Française
and are in Appendix 1 of the book. They need no extra comment from me so I have added them here for you to read and think about in terms of your own writing:
Treating her theme:
If I want to create something striking, it is not misery I will show but the prosperity that contrasts with it… Contrasts! Yes, there’s something to that, something that can be very powerful and very new.
…it’s like music when you sometimes hear the whole orchestra, sometimes just the violin.
What interests me here is the history of the world.
I must create something great and stop wondering if there’s any point
In spite of everything, the thing that links all of these people together is our times, solely our times. Is that really enough? I mean: is this link sufficiently felt?
On the one hand, I would like a kind of general idea. On the other … Tolstoy, for example, with one idea spoils everything. Must have people, human reactions, and that’s all…
What’s important - the relationship between the different parts of the work…..
All in all, make sure to have variety on one hand and harmony on the other…Pursuit - people in love - laughter, tears etc. It’s this type of rhythm I want to achieve.
The movement of the masses must give the book its worth.
What would be good all in all (but is it doable?) is to always show the advance of the German army in the scenes not seen from the perspective of the characters.
By unifying, always simplifying the book (in its entirety) must result in a struggle between individual destiny and collective destiny. Must not take sides.
The most important thing and most interesting thing here is the following: the historical, revolutionary facts etc. must be only lightly touched upon, while daily life, the emotional life and especially the comedy it provides must be described in detail.
On research:
What I need to have:
- an extremely detailed map of France or Michelin Guide
- the complete collection of several French and foreign newspapers between 1 June and 1 July
- a work on porcelain
- June birds, their names and songs
- A mystical book (belonging to the godfather) Father Brechard
Comments on her text and characters:
- Will - he talks for too long
- Death of the priest - schmaltzy
- Nimes? Why not Toulouse which I know?
- In general, not enough simplicity
- keep it simple. Tell what happens to people and that’s all
… convince yourself that the sequences in Storm, if I may say so, must be, are a masterpiece. Work on it tirelessly.
I think I should replace the strawberries with forget-me-nots. It seems impossible tobring cherry trees in blossom and ripe strawberries together in the same season.
Adagio: Must rediscover all these musical terms …
This, as I’ve said, is a small sampling of her notes while writing Suite Française
and I’d encourage you to get hold of the book and read both the novel and her notes to see just how carefully crafted the book is. In any case, I think that this sampling shows that the writing process is one of constant revision and questioning, testing of ideas, reduction of the complex to the simple and of careful research.
You may also be interested in:
Prepositions with arrive and late: Hide Player | Play in Popup | Download
Question from Cathy in Canada:
Can we say I arrive to work at 9 o’clock or do we need to use “at”? Also can we say I was late to class or do we need to use “in”? Thank you.
Answer:
Hi Cathy, thanks for your question. The worst thing about prepositions is that there are no nice simple rules to let you know how to use them with certain words. Your question, Cathy, demonstrates this. In most cases you just have to learn the prepositions that go with certain words. Let’s look at your two verbs : to arrive and to be late.
‘Arrive‘ can be followed by several prepositions depending on what is following, look at these:
So, in terms of your first question, I would say that you can use ‘for‘ or ‘at‘ depending on what sense you want to give ‘work’ (a place or a task).
Your second question with ‘to be late‘ is a bit different as I don’t think either of your options is correct.
is the correct usage … late for something.
Hope that’s helped!
Hear and Listen : Easily Confused: Hide Player | Play in Popup | Download
Question from Khadija in Morocco:
What is the difference between ‘hear’ and ‘listen’?
Answer:
Hi, Khadija. Thank’s for your question, I’m sure that the difference between ‘listen‘ and ‘hear‘ is not clear for a lot of English language learners.
Let’s have a look at them:
Listen is used to talk about or describe sounds that are being made around you and which you are making an active effort to focus on. For example:
Note that ‘listen‘ is nearly always followed by ‘to‘ - you listen to some sound.
Just to repeat an important point; listening is active - that is you are making an active effort to listen to the sound.
Hear is used for sounds that come to our ears, but we do not, unlike listen, need to be actively engaged in trying to listen to the sound - it can just come to your ears! For example:
Note that ‘hear’ is not followed by ‘to’. But, to make it a little more complicated let’s look at this conversation:
Now, that last sentence seems a little confused but also shows cleary how the two verbs are used - in this case, if John does not make an active effort to listen he will not hear his father’s advice (even if he may have heard sounds his father was making!)
Where hear and listen may seem very close is when you hear something like:
This is when information is passed to you from another source without you necessarily seeking it - in this case note that ‘hear’ is followed by ‘about’ - ‘to hear about’ something, someone or some action or event.
So, you can hear something without wanting to, but you can only listen to something intentionally.
PEMULA
1) Speaking (berbicara); Anda akan menyimak contoh percakapan (short conversataion/dialogue) dari narrator kemudian anda bisa mengambil bagian dari percakapan tersebut. Percakapan tersebut mencakup ungkapan – ungkapan yang biasa digunakan dalam percapan setiap hari dan disesuaikan dengan situasi. Misalnya: Percakapan tentang aktivitas di kantor, rumah sakit, hotel, dll. Anda juga bisa berinteraksi secara langsung dengan Native Speaker (Tanya jawab).
2) Listening (mendengarkan); Anda akan mendengarkan beberapa contoh percakapan yang berlangsung di suatu tempat (berupa tanya jawab, setelah itu anda bias mengambil bagian dalam percakapan tersebut, baik sebagai penanya atau yang menjawab pertanyaan), mendengarkan penjelasan narrator tentang kebudayaan Amerika (anda akan melihat video kota – kota di Amerika dan penjelasan tentang kebudayaannya dan anda juga dapat membaca text bahasa Inggris jika anda kesulitan mendengarkan penjelasannya), serta mendengarkan instruksi dari narrator tentang apa yg harus anda lakukan pada topik yg akan anda pelajari.
3) Writing (menulis); Anda akan belajar menulis jawaban pada bagian latihan pronunciation, grammar, pasangan kata / menjodohkan kalimat, mendiskripsikan gambar. Karena anda mempunyai pilihan dalam memberikan jawaban; berupa suara atau teks.
4) Pronunciation (pengucapan); Anda akan mendengarkan cara pengucapan kata (intonasi dan tekanan) dalam bahasa Inggris yang benar. Setelah itu, anda akan melakukan latihan pengucapan kata dan anda akan dinilai berupa prosentase apakah anda sudah mengucapkan kata – kata tersebut dengan benar? Anda bisa melakukannya secara berulangkali sampai sempurnah.
5) Vocabulary (kosa kata); Anda akan melakukan banyak latihan pada sesi ini. Misalnya; memilih kata yang paling tepat dalam satu bacaan/ reading, melengkapai kalimat, sinonim (persamaan kata, antonim (lawan kata).
6) Reading (membaca); Anda akan membaca teks pada bacaan kemudian anda menjawaban pertanyaan. Aktivitas pada sesi ini sangat berhubungan dengan sesi vocabulary termasuk memahami bacaan.
7) Grammar & Structure (tata bahasa); Anda akan mempelajari bagaimana membuat kalimat bahasa Inggris yang benar yang disesuaikan dengan waktu. Sebelum menyusun kalimat, anda akan mempelajari beberapa jenis kata yang merupakan basic / dasar dalam penyusunan kalimat bahasa Inggris. Misalnya; kata benda, kata sifat, kata kerja, kata ganti, kata keterangan, dll. Setelah anda memahami penjelasannya, anda dapat mengerjakan latihan yang sangat bervariasi. Semakin banyak anda mengerjakan latihan yang bervariasi maka anda akan semakin memahami / mengerti bagaimana sebenarnya menyusun kalimat bahasa Inggris yang benar.
English Games (permainan); Anda pasti tertarik belajar bahasa Inggris dalam bentuk permainan. Ini adalah salah satu metode yang lagi nge-trend bagi dunia anak – anak sekarang. Anda dapat menikmati permainan ini namun sedikit memahami bahasa Inggris karena instruksinya dalam bahasa Inggris.